Wannura

Koleksi Tumbuhan

HALIA BARA (Zingiber officinale var rubrum Rosc.) KECUTKAN RAHIM Mei 20, 2010

Filed under: Herba — zainura66 @ 7:29 pm
Tags: , ,

 

POKOK: ULAT BUMI Mei 17, 2010

Filed under: Herba — zainura66 @ 8:03 pm

 

GALAK TUA (Stemona curtisii Lour.) MEMBANTU PESAKIT DIABETES

Filed under: Herba — zainura66 @ 1:17 am
Tags: , ,

Pokok Galak Tua adalah sejenis pokok yang terdapat di hutan Malaysia. Ia juga dikenali sebagai Ubi Kemili, Pokok Seratus, Stemona, Pecah Kelambu.

Pokok Galak Tua merupakan sejenis herba menjalar yang mepunyai ubi yang lembut. Daunnya seakan -akan daun ubi jaga; bezanya daun galak tua lebih bulat dan daun ubi jaga lebih lonjong. Ubinya berwarna putih dan bersaiz lebih kurang sebesar pensil dengan panjangnya lebih kurang 1 meter. Ia boleh dikunyah seperti tebu dan mempunyai rasa manis dan pedas. Mengandungi alkaloid stemona.

Pokok ini berasal dari Madagaskar atau Afrika tropika dan tersebar hingga ke Sri Lanka, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Ia adalah sejenis herba saka berumpun, setinggi 60 hingga 90 sm dan ditanam sebagai tanaman semusim. Batangnya lembut, semi-sukulen, bersegi empat, pubesen, melentur atau menegak dan tumbuh pada buku ruas bahagian bawah pohon yang ditumbuhi akar.

Daunnya ovat hingga sub-orbikular, bes kuneat, tepi daun bergerigi kasar, berukuran 2 hingga 6 sm panjang, 1.5 hingga 4 sm lebar dan berwarna hijau muda. Daun ini beraroma apabila diramas. Infloresen terminal, berjambak tegak, berbunga banyak, kecil dan berwarna keunguan.

Herba ini berubi dan rupanya seakan-akan ubi kentang. Ubi ini berukuran 2 hingga 4 sm panjang, 0.5 hingga 2 sm lebar, berwarna hitam keperangan dan isinya berwarna putih susu.

Ubi kemili mengandungi khasiat makanan yang agak sederhana. Dalam setiap 100 g, bahagian yang boleh dimakan ubinya mengandungi: Air 75 g, protein 1.6g, lemak 0.1 g, karbohidrat 21.7 g, serat 0.7 g, kalsium 51 mg, fosforus 27 mg, ferum 1.1 mg, natrium 7 mg, kalium 338 mg, vitamin 0, vitamin B1 0.16 mg, vitamin B2 0.07 mg, niasin 2.0 mg vitamin C 8.1 mg.

Sumber : http://ms.wikipedia.org/wiki/

 

JUANG PASIR HERBA BAGI MASALAH TENAGA BATIN Mei 15, 2010

Filed under: Herba — zainura66 @ 2:08 am
Tags: , , , ,

 

JELITI TANGLONG UNTUK BARAH DAN KAYAP

Filed under: Herba — zainura66 @ 2:05 am
Tags: , ,

 

ANJING TINGGONG BAGI YANG LEMAH TENAGA BATIN Mei 13, 2010

Filed under: Herba — zainura66 @ 6:41 pm
Tags: , ,

 

PURWOCENG (Pimpinella alpina) VIAGRA DARI JAWA UNTUK LEMAH SYAHWAT Mei 12, 2010

Filed under: Herba — zainura66 @ 4:35 pm
Tags: , , , , ,

Habitat Semak, menutup tanah, tinggi ± 25 cm.
Batang Semu, bulat, lunak, hijau pucat.
Daun Majemuk, bentuk jantung, panjang + 3 cm, lebar ± 2,5 cm, tepi bergerigi, hujung tumpul, pangkal bertoreh, tangkai panjang ± 5cm, coklat kehijauan, pedulangan menyirip, hijau.
Bunga Majemuk, bentuk payung, tangkai silindris, panjang + 2 cm, kelopak bentuk tabung, hijau, benang sari putih. putik bulat.hijau, mahkota berambut, coklat.
Buah Lonjong, kecil, hijau.
Biji Lonjong, kecil, coklat.
Akar Tunggang, putih kotor.

Khasiat
Herba Pimpinella alpina berkhasiat sebagai obat lemah syahwat dan
untuk peluruh air seni.

Untuk obat iemah syahwat dipakai ± 5 gram daun Pimpinella alpina, dicuci,
dikeringkan, diserbuk. kemudian diseduh dengan 1 gelas air matang panas, dinginkan, saring. Hasil saringan diminum sekaligus.

Kandungan kimia

Herba Pimpinella alpina mengandung alkaloida, polifenol dan flavonoida

Purwoceng merupakan salah satu tanaman obat tradisional yang dikenal berkhasiat sebagai obat perkasa kaum lelaki. Karena itu, Purwoceng juga mendapat sebutan ‘Viagra Jawa’.

Kenapa bisa demikian? Purwoceng sebenarnya tergolong tanaman langka, namun kini dapat diselamatkan dengan budi daya menggunakan metode kultur in vitro. Masalah budi daya Purwoceng ini pernah dipaparkan Ireng Darwati, mahasiswa S3 program studi Agronomi Institut Pertanian Bogor (IPB) saat mempertahankan disertasinya berjudul “Kultur Kalus dan Kultur Akar Rambut Purwoceng untuk Menghasilkan Metabolit Sekunder dan Harapan untuk Pengembangan Tanaman Purwoceng di Masa Mendatang,” di Kampus IPB Darmaga, Bogor (Suara Pembaharuan, 23/02/2007).

Nama Latin purwoceng semula adalah Pimpinella pruacan, tapi kemudian direvisi menjadi Pimpinella alpina. Tumbuhan ini ditemukan di Pegunungan Alpen di Swiss, pada ketinggian 2.000-3.000 meter di atas permukaan laut. Mengenai tempat tumbuh Purwoceng di Indonesia semula dikenal tumbuh liar di kawasan Dieng pada ketinggian 2.000-3.000 m dpl. Namun menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan (1987), sebaran tanaman purwoceng di Indonesia kini meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Wahyuni et al. (1997) menyatakan bahwa purwoceng dapat tumbuh di luar habitatnya seperti di Gunung Putri Jawa Barat dan mampu menghasilkan benih untuk bahan konservasi. Potensi tanaman purwoceng cukup besar, tetapi masih terkendala oleh langkanya penyediaan benih dan keterbatasan lahan yang sesuai untuk tanaman tersebut (Yuhono 2004). Selain di Dieng, Purwoceng juga tumbuh di pegunungan Iyang, Jawa Timur (dikenal sebagai suripandak abang). Di Gunung Tengger dinamai gebangan depok. Kendati sebutan nama latinnya berubah-ubah, para peneliti memiliki satu kesimpulan yang sama bahwa Purwoceng termasuk tanaman obat.

Apa Saja Manfaat Purwoceng? Eni Hayani dan May Sukmasari pernah memaparkan, seluruh bagian tanaman purwoceng dapat digunakan sebagai obat tradisional, terutama akar. Akarnya mempunyai sifat diuretika dan digunakan sebagai aprosidiak (Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan 1987), yaitu khasiat suatu obat yang dapat meningkatkan atau menambah stamina. Pada umumnya tumbuhan atau tanaman yang berkhasiat sebagai aprosidiak mengandung senyawa-senyawa turunan saponin, alkaloid, tanin, dan senyawa-senyawa lain yang berkhasiat sebagai penguat tubuh serta memperlancar peredaran darah. Di Indonesia tumbuhan atau tanaman obat yang digunakan sebagai aprosidiak lebih banyak hanya berdasarkan kepercayaan dan pengalaman (Hernani dan Yuliani 1991).

Penggunaan tanaman obat dibidang pengobatan pada prinsipnya tetap didasarkan pada prinsip-prinsip terapi seperti pada penggunaan obat moderen. Oleh karenanya informasi kandungan senyawa aktif tanaman obat mutlak diperlukan. Umumnya tanaman obat jarang memiliki bahan senyawa tunggal, sehingga sulit untuk memastikan kandungan aktif mana yang berkasiat untuk pengobatan penyakit tertentu. Misalnya khasiat akar tanaman purwoceng (Pimpinella alpina) yang diketahui dari pengalaman-pengalaman orang kemudian berkembang menjadi image berkasiat sebagai aprodisiak, ternyata mengandung turunan dari senyawa sterol, saponin dan alkaloida (Caropeboka dan Lubis, 1985).

Sidik, et al. (1985) mengatakan bahwa akar purwoceng mengandung turunan senyawa kumarin yang digunakan dalam industri obat modern, tetapi bukan untuk aprodisiak melainkan untuk anti bakteri, anti fungi dan anti kanker. Hernani dan Yuliani (1990) mengatakan bahwa bahan aktif purwoceng terbanyak terletak pada bagian akarnya.

Tanaman purwoceng mempunyai kandungan bahan yang bersifat aprodisiak menyebabkan keberadaannya semakin dicari orang. Pada mulanya, tanaman purwoceng digunakan oleh penduduk disekitar pegunungan Dieng (daerah asalnya) hanya untuk pemeliharaan kesehatan atau peningkatan derajat kesehatan. Namun sejalan dengan perkembangan penelitian dan isu yang dihembuskan, tanaman ini berkembang menjadi komoditas yang sangat ”laku jual” sebagai bahan aprodisiak, bahkan kini telah dipopulerkan oleh masyarakat dan Kelompok Tani setempat dengan sebutan ”Viagra Jawa”.

Keberadaan tanaman yang semakin langka disebabkan selain karena terdesak oleh pesatnya permintaan, juga karena pengadaannya memerlukan waktu. Atas dasar kelangkaan dan isu aprodisiak tersebut harga yang terjadi sekarang sangat tinggi.

Sumber rujukan : http://nabawiherba.wordpress.com/category/tumbuhan/

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 74 other followers