Wannura

Koleksi Tumbuhan

Pokok Patawali Ogos 21, 2021

Filed under: Uncategorized — Wannura @ 7:25 pm

Nama Tempatan: Patawali
Nama Saintifik: Tinospora Crispa (Miers)
Nama Lain: Akar seruntun, brotowali, batang wali
Famili: Menispermaceae
Lokasi Dijumpai: Dipagar-pagar lama, rumah tinggal
Asal : India

Deskripsi Tanaman

Perawakan : Tumbuhan memanjat, 2 – 5 m, berkutil, pahit.

Batang : permukaan berkutil rapat, membelit, coklat tua – muda.

Daun : tunggal, bangun jantung, ujung meruncing tajam, lebar 6-13 cm, ibu tulang nyata, tangkai 4 – 16 cm.

Bunga : tandan jantan, 7-25 cm, tangkai bunga 2-3 bersama, 3,5 – 4 cmm, kelopak hijau, terdalam bulat telur terbalik – sudip, kurang lebih 3,5 mm. Mangkota berbentuk benang, benang sari 6, 2 – 2,5 cm, kepala sari kuning.

Buah : drupa, kurang lebih 8 mm.2)

Waktu berbunga : September

Distribusi : ditanam di Jawa

Sifat khas : Kutil pada batang dan rasa pahit kulit batang.

Batang pokok yang berbonggol bonggol atau berkerutu

Patawali adalah sejenis pokok menjalar yang mempunyai batang berkerutu dan berdaun lebar. Ianya banyak terdapat menjalar di pagar-pagar dan di kawasan rumah lama yang agak terbiar. Seluruh tumbuhan ini mempunyai rasa yang amat pahit sekali dan selalunya disapu pada payudara untuk memudahkan bayi bercerai susu. Batangnya yang pahit itu mempunyai kandungan air yang tinggi.

Tumbuhan ini biasa dijadikan bahan yang dicampuri dalam minyak urut oleh tukang urut tradisional. Bunganya berwarna hijau muda yang mempunyai 6 mahkota yang berupa tunas. Bunganya kemudian akan berubah merna menjadi merah dan putih apabila matang. Buahnya pula berwarna merah muda. kulit batangnya mengandungi alkaloid dan damar manakala akarnya mengandungi berberin dan kolumbin.

KEGUNAAN:

Untuk perubatan, batangnya yang berkerutu adalah bahagian utama yang mengandungi khasiat. Batang Patawali digunakan untuk merawat sakit perut, demam, tekanan darah tinggi, kencing manis dan juga penyakit kelamin dikenali sebagai gonorea.

Tumbuhan ini mujarab bagi mengatasi masalah cacing dikalangan kanak-kanak dengan cara merebus batangnya, ditapis dan diminum segelas sehari. Air rebusan juga boleh digunakan untuk membersihkan darah, dan mujarab untuk membunuh kuman dan menyembuhkan luka.

Kajian saintifik yang dijalankan ke atas Patawali menunjukkan tumbuhan itu mengandungi sejenis bahan yang dipanggil jattrorrhizine yang dikatakan mujarab untuk menjauhkan penyakit demam malaria. Selain daripada itu ia juga dapat menurunkan tekanan darah tinggi dan meningkatkan selera makan. Pikroretin yang terdapat didalamnya dapat menurunkan suhu panas badan (mengubat demam).

Malah di Filipina tonik ini digunakan untuk mengubat sakit jiwa atau tekanan mental. Air rebusan ini juga dapat mengubat sakit pinggang dan sengal-sengal (boleh dicampuri dalam minyak urut) . Air rebusan ini juga boleh digunakan untuk membasuh kudis-kudis setelah dicampuri dengan sedikit belerang. Daunnya digunakan untuk mengubat penyakit sifilis.

Kandungan kimia

Tinospora crispa L. mengandung alkaloid kuarterner; N-asetilnornusiferin, N-formil-annonain; N-formil-nornusiferin; alkaloid berberin hanya ditemukan pada akar akan tetapi tidak ditemukan pada daun dan batang.

Di samping itu ditemukan pula suatu glikosida furanoditerpen yang berasa pahit.3,10,12) N-trans-Feruloil-tiramin, N-cis-Feruloilti-ramin, Tinotuberida, Borapetosida A, Borapetol, Tinosporin, Tinospori-dina.1)

Tanaman lain yaitu Tinospira cordifolia Miers., mengandung alkaloid kuarterner: magnoflorin, tembretarin dan zat pahit yang tak mengandung unsur N; batang mengandung alkaloid kuarterner yaitu; N-asetil-nornusiferin, N-formil-annonain; N-formil-nornuciferin. Pada jenis Tinospora codifolia Miers, terdapat alkaloid kuarterner magnoflorin dan tembetarin berturut-turut 0,07% dan 0,012% terhitung dari bobot kering.5,10)

Pada jenis lain Tinospora capillipes Gagnep., ditemukan alkaloid kuarterner protoberberin, palmatin, jatorrhizin-columbanine stepharanin, dehidrodiskret-amin; disamping itu ditemukan pula alkaloid kuarterner aporfin (menispermin dan magnoflorin)3,4)

Cara pemakaian di masyarakat

Mengobati demam-kuning

Botrowali 1 jari dicuci dan dipotong-potong secukupnya, direbus dengan air bersih 3 gelas minum sehingga hanya tinggal kira-kira ½ nya, sesudah dingin disaring lalu diminum dengan madu seperlunya (2 x sehari, masing-masing ¾ gelas minum).

Mengobati cacar air

Botrowali 1 jari, dicuci dan dipotong-potong seperlunya, direbus dengan air bersih 4 gelas sehingga hanya tinggal kira-kira 3/5 nya, sesudah dingin disaring lalu diminum dengan madu seperlunya (2-3 x sehari masing-masing ¾ gelas).8)

Efek biologi

Ekstrak metanol yang mengandung 2 macam komponen alkaloid dengan komposisi relatif 52,9 11,6% komponen alkaloid A dan 28,9 10,3% komponen alkaloid B dengan takaran 690 mg/kg BB mampu mencegah peningkatan kadar glukosa darah pada tikus normal dengan pembebanan glukosa 1,75 g/kg BB.

Pada takaran 115 mg/kg BB ekstrak tersebut di atas dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus yang dibuat diabetik dengan pemejanan aloksan 100 mg/kg BB.15)

Fraksi etilasetat sari etanol batang Tinospora tuberculata dengan konsentrasi 200-300 mg/ml mampu menghambat pertumbuhan Staphylloccus aureus (pada konsentrasi 200 mg/ml dengan daya hambat 7,15 – 15,80 mm; sedangkan pada konsentrasi 300 mg/ml 9,30-19,98 mm).14)

Kegunaan di masyarakat

Pada umumnya batang tanaman diguna-kan untuk pengobatan penyakit kuning, kencing manis, nyeri perut, demam; pada pemakaian sebagai obat luar digunakan untuk membersihkan luka, kudis dan scabies.1,6)

Budidaya

Tanaman ini diperbanyak dengan stek batang, yang dipotong-potong sepanjang 50 cm, di tanam di sisi tonggak penopang (lanjaran). Hasil terbaik pada tanah berlempung yang kaya hara. Tanaman ini mampu tumbuh dengan subur di dataran pantai sampai dataran tinggi (pada ketinggian 1000 dpl). Stek batang ditanam dengan jarak beberapa sentimeter dan dibiarkan merambat pada tonggak penopang yang tingginya 2 meter. Untuk pertumbuhan selanjutnya, sering-sering diberikan kapur dan pupuk organik.7)

Rujukan : http://petua.whatta.org/khasiat-patawali/

**Nota tambahan :

Putrawali (Tinospora Cordifolia)
Tumbuhan ini sering digunakan sebagai bahan perubatan tradisional untuk rawatan arthritis, ia juga mampu mengurangkan gula dalam darah dan untuk membantu mengurangkan gejala diabetes, menurunkan panas badan, dan juga berguna sebagai antiseptik luka seperti lebam atau kudis, penambah nafsu makan dan juga mengubati malaria.

 

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out /  Tukar )

Google photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google anda. Log Out /  Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out /  Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out /  Tukar )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: